Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Agustus 2018

Cantik sabar dan cerdas

Ummu Salamah termasuk wanita yang terhormat dan juga seorang wanita yang berparas cantik serta memiliki pemikiran yang cerdas. Ummu Salamah pada awalnya menikah dengan Abu Salamah Abdullah bin Abdil Asad Al Makhzumi, seorang sahabat yang mengikuti dua kali hijrah. Bagi Abu Salamah, Ummu Salamah adalah istri yang setia, taat menjalankan perintah Allah SWT serta melaksanakan setiap perintah sang suami.

Ummu Salamah senantiasa mendampingi suaminya melawan kerasnya siksaan orang-orang Quraisy, bahkan saat hijrah bersama suaminya ke Habasyah, semua harta dan keluarga ditinggalkannya untuk menjauhi orang-orang zalim dan para thagut yang sedang berkuasa saat itu. Dan di bumi hijrah inilah Ummu Salamah melahirkan putranya yang bernama Salamah.

Setelah kondisi Makkah kondusif lagi, Ummu Salamah dan suami serta anaknya kembali menjalani kehidupan di Makkah. Tak lama kemudian, sebuah peristiwa yang sangat mengesankan mengiringi perjalanan hijrah Ummu Salamah ke Madinah setelah peristiwa Bai'atul Aqabah Al Kubra, Abu Salamah bertekad untuk mengajak anggota keluarganya berhijrah.

Di saat Abu Salamah menunggang unta bersama istri dan anaknya, mereka tiba-tiba dihadang oleh Bani Mughirah dari suku Ummu Salamah. Mereka hanya mengizinkan Abu Salamah dan anaknya saja yang hijrah ke Madinah, sedangkan Ummu Salamah harus tetap tinggal di Makkah.

Terpisah dari suami dan anaknya beberapa waktu lamanya, membuat hati Ummu Salamah hancur. Setiap hari dirinya pergi ke pinggir sungai dang terngiang saat-saat dimana dirinya berpisah dengan suami dan anaknya. Bahkan hal itu membuatnya menangis sampai menjelang malam.

Lama kelamaan Ummu Salamah pun diberi izin untuk hijrah ke Madinah oleh kaum yang menahan dirinya. Dengan hanya ditemani oleh Utsman bin Thalhah, keduanya lantas pergi ke Madinah.
Akhirnya keduanya tiba di desa Bani Umar bin Auf di Quba, tempat dimana Abu Salamah tinggal. Selama di Madinah, Ummu Salamah sibuk mendidik anaknya yang merupakan tugas pokok bagi wanita dan mempersiapkan bekal bagi suaminya untuk berjihad.

Tak lama kemudian, Rasulullah SAW memanggil Abu Salamah dan mempercayakan kepadanya untuk membawa bendera pasukan menuju Qathn. Kaum muslimin yang dipimpin Abu Salamah meraih kemenangan, namun Abu Salamah kembali menderita luka, sehingga mengharuskan dirinya berbaring di tempat tidur. Sebagai seorang istri, Ummu Salamah lantas merawat suaminya hingga menjelang akhir hayat Abu Salamah.

Salah satu ucapan suaminya yang masih diingat oleh Ummu Salamah adalah dirinya akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Abu Salamah. Rasulullah SAW turut memikirkan nasib wanita mukminah yang jujur, setia dan sabar ini. Beliau melihat tidak bijaksana rasanya apabila dia dibiarkan menyendiri tanpa seorang pendamping. Akhirnya beliau pun melamar Ummu Salamah sehingga menjadikannya seorang Ummul Mukminin.

Ummu Salamah hidup dalam rumah tangga nubuwah yang telah ditakdirkan untuknya dan merupakan suatu kedudukan yang beliau harapkan. Ia menjaga kasih sayang dan kesatuan hati bersama Ummahatul Mukminin. Ummu Salamah juga senantiasa memperhatikan urusan kaum muslimin dan mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Tepat pada bulan Dzulqaidah tahun 59 setelah hijriyah, ruhnya menghadap Sang Pencipta. Sedangkan umur beliau sudah mencapai 84tahun. Ia wafat setelah memberikan contoh kepada wanita dalam hal kesetiaan, jihad dan kesabaran.

.
Free share
@dd_bacasaja
@dinadestriantini

Senin, 12 Maret 2018

Sayyidina Ali dan Lelaki Tua

Dengan tergesa-gesa Sayyidina Ali berangkat ke masjid,waktu sholat subuh itu ia ingin berjamaah bersama Rasulullah.Namun ditengah jalan langkahnya terhambat oleh seorang lelaki tua yang berjalan tertatih-tatih dengan bantuan sebuah tongkat dan tangan kirinya memegang lentera sebagai penerang jalan.

Untuk menghormati orang tua itu,dan sebagai sikap rendah diri,Sayyidina Ali tak ingin mendahului lelaki tua itu,maka ia berjalan dibelakangnya.Karena keadaan itu Sayyidina Ali menjadi terlambat datang berjama'ah di masjid.Celakanya ternyata lelaki tua itu tidak sholat di masjid,karena ia orang Nasrani.

Ketika Sayyida Ali memasuki masjid, jama'ah sholat sedang ruku',Rasulullah saat itu sengaja memanjangkan rukuknya dengan bacaan yang panjang, sehingga Sayyidina Ali dapat mengikutinya menjadi makmum.

Usai sholat Sayyidina Ali bertanya kepada Rasulullah:
” Ya Rasulullah,mengapa engkau memanjangkan ruku'mu, suatu hal yang belum pernah aku jumpai selama ini? ”
” Saat ruku' dan membaca Subhana Rabbiyal 'adzimi, sebagaimna biasanya aku akan berdiri tegak, sebelum kepalaku terangkat, Malaikat Jibril telah mendahului menekan punggungku,aku baru bisa mengangkat kepala dan berdiri tegak untuk membaca i'tidal.” jawab Rasulullah.

Mendengar penjelasan Rasulullah kemudian Sayyidina Ali menceritakan kejadian dalam perjalanan menuju masjid yang baru saja dialami. Rupanya Allah telah memberi isyarat kepada Rasulullah agar Sayyidina Ali bisa ikut berjama'ah sholat subuh bersama Rasulullah

Ternyata bukan itu saja, riwayat yang luar biasa Sayyidina Ali ini, diceritakan pada saat itu Malaikat Mika'il diperintahkan Allah untuk menahan lajunya matahari hanya agar Sayyidina Ali tidak ketinggalan sholat berjama'ah subuh di masjid bersama Rasulullah.


Free Share And Repost
@dd_bacasaja
@dinadestriantini
@ayomenulis

Sabtu, 03 Februari 2018

Kisah Masuk islam nya Umar Bin Khattab, R.A



Umar bin Khattab ra terkenal sebagai orang yang berwatak keras dan bertubuh tegap. Sering kali pada awalnya (sebelum masuk Islam) kaum muslimin mendapatkan perlakukan kasar darinya. Sebenarnya di dalam hati Umar sering berkecamuk perasaan-perasaan yang berlawanan, antara pengagungannya terhadap ajaran nenek moyang, kesenangan terhadap hiburan dan mabuk-mabukan dengan kekagumannya terhadap ketabahan kaum muslimin serta bisikan hatinya bahwa boleh jadi apa yang dibawa oleh Islam itu lebih mulia dan lebih baik.

Sampailah kemudian suatu hari, beliau berjalan dengan pedang terhunus untuk segera menghabisi Rasulullah SAW. Namun di tengah jalan, beliau dihadang oleh Abdullah an-Nahham al-‘Adawi seraya bertanya:

“Hendak kemana engkau ya Umar ?”,
“Aku hendak membunuh Muhammad”, jawabnya.
“Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh jika engkau membunuh Muhammad ?”,
“Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama asal-mu?”. Tanya Umar.
“Maukah engkau ku tunjukkan yang lebih mengagetkan dari itu wahai Umar, sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu telah murtad dan telah meninggalkan agamamu”, kata Abdullah.

Setelah mendengar hal tersebut, Umar langsung menuju ke rumah adiknya. Saat itu di dalam rumah tersebut terdapat Khabbab bin Art yang sedang mengajarkan al-Quran kepada keduanya (Fatimah, saudara perempuan Umar dan suaminya). Namun ketika Khabbab merasakan kedatangan Umar, dia segera bersembunyi di balik rumah. Sementara Fatimah, segera menutupi lembaran al-Quran.

Sebelum masuk rumah, rupanya Umar telah mendengar bacaan Khabbab, lalu dia bertanya :

“Suara apakah yang tadi saya dengar dari kalian?”,
“Tidak ada suara apa-apa kecuali obrolan kami berdua saja”, jawab mereka
“Pasti kalian telah murtad”, kata Umar dengan geram
“Wahai Umar, bagaimana pendapatmu jika kebenaran bukan berada pada agamamu ?”, jawab ipar Umar.

Mendengar jawaban tersebut, Umar langsung menendangnya dengan keras hingga jatuh dan berdarah. Fatimah segera membangunkan suaminya yang berlumuran darah, namun Fatimah pun ditampar dengan keras hingga wajahnya berdarah, maka berkatalah Fatimah kepada Umar dengan penuh amarah:

“Wahai Umar, jika kebenaran bukan terdapat pada agamamu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah”

Melihat keadaan saudara perempuannya dalam keadaan berdarah, timbul penyesalan dan rasa malu di hati Umar. Lalu dia meminta lembaran al-Quran tersebut. Namun Fatimah menolaknya seraya mengatakan bahwa Umar najis, dan al-Quran tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang telah bersuci. Fatimah memerintahkan Umar untuk mandi jika ingin menyentuh mushaf tersebut dan Umar pun menurutinya.

Setelah mandi, Umar membaca lembaran tersebut, lalu membaca : Bismillahirrahmanirrahim. Kemudian dia berkomentar: “Ini adalah nama-nama yang indah nan suci”

Kemudian beliau terus membaca :
Hingga ayat :
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”
(QS. Thaha : 14)

Beliau berkata :
“Betapa indah dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan padaku di mana Muhammad”.

Mendengar ucapan tersebut, Khabab bin Art keluar dari balik rumah, seraya berkata: “Bergembiralah wahai Umar, saya berharap bahwa doa Rasulullah SAW pada malam Kamis lalu adalah untukmu, beliau SAW berdoa :
“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”. Rasulullah SAW sekarang berada di sebuah rumah di kaki bukit Shafa”.

Umar bergegas menuju rumah tersebut seraya membawa pedangnya. Tiba di sana dia mengetuk pintu. Seseorang yang berada di dalamnya, berupaya mengintipnya lewat celah pintu, dilihatnya Umar bin Khattab datang dengan garang bersama pedangnya. Segera dia beritahu Rasulullah SAW, dan merekapun berkumpul.

Hamzah bertanya:
“Ada apa ?”.
“Umar” Jawab mereka.
“Umar ?!, bukakan pintu untuknya, jika dia datang membawa kebaikan, kita sambut. Tapi jika dia datang membawa keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”.

Rasulullah SAW memberi isyarat agar Hamzah menemui Umar. Lalu Hamzah segera menemui Umar, dan membawanya menemui Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memegang baju dan gagang pedangnya, lalu ditariknya dengan keras, seraya berkata :

“Engkau wahai Umar, akankah engkau terus begini hingga kehinaan dan adzab Allah diturunakan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah ?, Ya Allah inilah Umar bin Khattab, Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin Khattab”.

Maka berkatalah Umar :
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah .
Kesaksian Umar tersebut disambut gema takbir oleh orang-orang yang berada di dalam rumah saat itu, hingga suaranya terdengar ke Masjidil-Haram.

Masuk Islamnya Umar menimbulkan kegemparan di kalangan orang-orang musyrik, sebaliknya disambut suka cita oleh kaum muslimin.
.
Repost : Kisah Nabi dan Sahabat
@KisahTauladan
@KisahIslami
@semogabermanfaat